Tabel Tarif PPh 21 TER Kategori A, B, dan C Beserta Contohnya

syarief
August 21, 2026
https://www.pexels.com/id-id/foto/uang-kertas-euro-dan-lei-dengan-kalkulator-di-meja-29031562/

Kalau Anda bertugas menghitung payroll, tabel tarif PPh 21 TER adalah salah satu hal yang harus cepat dibaca dan tepat dipakai. Di skema baru ini, pemotongan PPh 21 masa berjalan tidak lagi langsung bergantung pada tarif progresif tahunan semata, tetapi menggunakan TER (Tarif Efektif Rata-Rata) untuk pemotongan bulanan atau harian sesuai jenis penerima penghasilan.

Fokus artikel ini adalah TER Kategori A, B, dan C: kapan dipakai, bagaimana memilih kategorinya dari status PTKP, bagaimana membaca tabelnya, dan bagaimana menghitung PPh 21 dengan contoh langkah demi langkah.

Apa itu PPh 21 TER dan kapan digunakan

TER (Tarif Efektif Rata-Rata) adalah tarif yang dipakai untuk membantu pemotongan PPh Pasal 21 atas penghasilan orang pribadi dalam masa pajak berjalan. Skema ini diatur dalam PP 58/2023 dan petunjuk pelaksanaannya dijabarkan lebih lanjut dalam PMK 168/2023.

Secara praktis, TER memudahkan pemberi kerja memotong pajak gaji bulanan tanpa harus menghitung tarif progresif tahunan dari awal setiap masa pajak. Untuk penerima penghasilan tertentu, TER dipakai sebagai tarif pemotongan bulanan; untuk penghasilan harian pada kondisi tertentu, digunakan TER harian.

Singkatnya:

  • TER bulanan dipakai untuk pemotongan masa pajak berjalan atas penghasilan bulanan.
  • TER harian dipakai untuk kondisi penghasilan harian yang memenuhi kriteria penerapan harian.
  • Pada masa pajak terakhir/Desember, pemotongan kembali mengacu pada tarif Pasal 17 sesuai ketentuan yang berlaku.

Cara menentukan Kategori A, B, atau C dari status PTKP

Kategori TER bulanan ditentukan dari status PTKP pegawai. Karena itu, langkah pertama sebelum membuka tabel adalah memastikan kode PTKP yang benar.

Pemetaan PTKP ke kategori TER

Status PTKPNilai PTKP setahunKategori TER
TK/0Rp54.000.000Kategori A
TK/1Rp58.500.000Kategori A
K/0Rp58.500.000Kategori A
TK/2Rp63.000.000Kategori B
K/1Rp63.000.000Kategori B
TK/3Rp67.500.000Kategori B
K/2Rp67.500.000Kategori B
K/3Rp72.000.000Kategori C
K/3 (dan status lain yang dipetakan ke kategori tertinggi sesuai lampiran)Rp72.000.000Kategori C

Catatan: gunakan status PTKP yang benar pada payroll Anda. Salah memilih kategori akan membuat tarif yang dipakai juga salah.

Cara cepat menentukannya

  1. Cek status keluarga pegawai: lajang, kawin, dan jumlah tanggungan.
  2. Cocokkan ke kode PTKP yang berlaku di sistem payroll.
  3. Lihat kategori TER yang sesuai: A, B, atau C.
  4. Baru ambil tarif dari tabel TER bulanan.

Tabel tarif PPh 21 TER Kategori A, B, dan C

Berikut tabel tarif TER bulanan yang bisa langsung Anda baca dan pakai untuk pemotongan pajak gaji. Tarif dipilih berdasarkan penghasilan bruto bulanan.

Tabel TER Kategori A

Penghasilan bruto bulananTER
Sampai dengan Rp5.400.0000.00%
Di atas Rp5.400.000 sampai Rp5.650.0000.25%
Di atas Rp5.650.000 sampai Rp5.950.0000.50%
Di atas Rp5.950.000 sampai Rp6.200.0000.75%
Di atas Rp6.200.000 sampai Rp6.500.0001.00%
Di atas Rp6.500.000 sampai Rp6.750.0001.25%
Di atas Rp6.750.000 sampai Rp7.050.0001.50%
Di atas Rp7.050.000 sampai Rp7.350.0001.75%
Di atas Rp7.350.000 sampai Rp7.650.0002.00%
Di atas Rp7.650.000 sampai Rp8.050.0002.25%
Di atas Rp8.050.000 sampai Rp8.450.0002.50%
Di atas Rp8.450.000 sampai Rp8.850.0003.00%
Di atas Rp8.850.000 sampai Rp9.350.0003.50%
Di atas Rp9.350.000 sampai Rp9.850.0004.00%
Di atas Rp9.850.000 sampai Rp10.350.0004.50%
Di atas Rp10.350.000 sampai Rp10.950.0005.00%
Di atas Rp10.950.000 sampai Rp11.550.0005.50%
Di atas Rp11.550.000 sampai Rp12.150.0006.00%
Di atas Rp12.150.000 sampai Rp12.750.0006.50%
Di atas Rp12.750.000 sampai Rp13.550.0007.00%
Di atas Rp13.550.000 sampai Rp14.350.0007.50%
Di atas Rp14.350.000 sampai Rp15.250.0008.00%
Di atas Rp15.250.000 sampai Rp16.250.0008.50%
Di atas Rp16.250.000 sampai Rp17.250.0009.00%
Di atas Rp17.250.000 sampai Rp18.350.0009.50%
Di atas Rp18.350.000 sampai Rp19.450.00010.00%
Di atas Rp19.450.000 sampai Rp20.650.00010.50%
Di atas Rp20.650.000 sampai Rp22.150.00011.00%
Di atas Rp22.150.000 sampai Rp23.750.00012.00%
Di atas Rp23.750.000 sampai Rp25.450.00013.00%
Di atas Rp25.450.000 sampai Rp27.250.00014.00%
Di atas Rp27.250.000 sampai Rp29.250.00015.00%
Di atas Rp29.250.000 sampai Rp31.450.00016.00%
Di atas Rp31.450.000 sampai Rp33.850.00017.00%
Di atas Rp33.850.000 sampai Rp36.350.00018.00%
Di atas Rp36.350.000 sampai Rp39.050.00019.00%
Di atas Rp39.050.000 sampai Rp42.050.00020.00%
Di atas Rp42.050.000 sampai Rp45.250.00021.00%
Di atas Rp45.250.000 sampai Rp48.750.00022.00%
Di atas Rp48.750.000 sampai Rp52.650.00023.00%
Di atas Rp52.650.000 sampai Rp55.950.00024.00%
Di atas Rp55.950.000 sampai Rp60.000.00025.00%
Di atas Rp60.000.000 sampai Rp64.000.00026.00%
Di atas Rp64.000.000 sampai Rp68.000.00027.00%
Di atas Rp68.000.000 sampai Rp74.000.00028.00%
Di atas Rp74.000.000 sampai Rp80.000.00029.00%
Di atas Rp80.000.000 sampai Rp85.000.00030.00%
Di atas Rp85.000.000 sampai Rp90.000.00031.00%
Di atas Rp90.000.000 sampai Rp95.000.00032.00%
Di atas Rp95.000.000 sampai Rp100.000.00033.00%
Di atas Rp100.000.00034.00%

Tabel TER Kategori B

Penghasilan bruto bulananTER
Sampai dengan Rp6.200.0000.00%
Di atas Rp6.200.000 sampai Rp6.500.0000.25%
Di atas Rp6.500.000 sampai Rp6.800.0000.50%
Di atas Rp6.800.000 sampai Rp7.100.0000.75%
Di atas Rp7.100.000 sampai Rp7.500.0001.00%
Di atas Rp7.500.000 sampai Rp7.900.0001.25%
Di atas Rp7.900.000 sampai Rp8.300.0001.50%
Di atas Rp8.300.000 sampai Rp8.750.0001.75%
Di atas Rp8.750.000 sampai Rp9.250.0002.00%
Di atas Rp9.250.000 sampai Rp9.800.0002.25%
Di atas Rp9.800.000 sampai Rp10.350.0002.50%
Di atas Rp10.350.000 sampai Rp10.950.0003.00%
Di atas Rp10.950.000 sampai Rp11.600.0003.50%
Di atas Rp11.600.000 sampai Rp12.300.0004.00%
Di atas Rp12.300.000 sampai Rp13.050.0004.50%
Di atas Rp13.050.000 sampai Rp13.850.0005.00%
Di atas Rp13.850.000 sampai Rp14.750.0005.50%
Di atas Rp14.750.000 sampai Rp15.750.0006.00%
Di atas Rp15.750.000 sampai Rp16.850.0006.50%
Di atas Rp16.850.000 sampai Rp18.050.0007.00%
Di atas Rp18.050.000 sampai Rp19.450.0007.50%
Di atas Rp19.450.000 sampai Rp20.950.0008.00%
Di atas Rp20.950.000 sampai Rp22.650.0008.50%
Di atas Rp22.650.000 sampai Rp24.650.0009.00%
Di atas Rp24.650.000 sampai Rp26.950.0009.50%
Di atas Rp26.950.000 sampai Rp29.550.00010.00%
Di atas Rp29.550.000 sampai Rp32.550.00011.00%
Di atas Rp32.550.000 sampai Rp35.950.00012.00%
Di atas Rp35.950.000 sampai Rp39.850.00013.00%
Di atas Rp39.850.000 sampai Rp44.350.00014.00%
Di atas Rp44.350.000 sampai Rp49.750.00015.00%
Di atas Rp49.750.000 sampai Rp56.350.00016.00%
Di atas Rp56.350.000 sampai Rp64.450.00017.00%
Di atas Rp64.450.000 sampai Rp74.450.00018.00%
Di atas Rp74.450.000 sampai Rp86.450.00019.00%
Di atas Rp86.450.000 sampai Rp100.450.00020.00%
Di atas Rp100.450.000 sampai Rp120.000.00021.00%
Di atas Rp120.000.000 sampai Rp150.000.00022.00%
Di atas Rp150.000.000 sampai Rp200.000.00023.00%
Di atas Rp200.000.000 sampai Rp300.000.00024.00%
Di atas Rp300.000.000 sampai Rp500.000.00025.00%
Di atas Rp500.000.000 sampai Rp1.405.000.00030.00%
Di atas Rp1.405.000.00034.00%

Tabel TER Kategori C

Penghasilan bruto bulananTER
Sampai dengan Rp6.600.0000.00%
Di atas Rp6.600.000 sampai Rp6.950.0000.25%
Di atas Rp6.950.000 sampai Rp7.350.0000.50%
Di atas Rp7.350.000 sampai Rp7.750.0000.75%
Di atas Rp7.750.000 sampai Rp8.200.0001.00%
Di atas Rp8.200.000 sampai Rp8.700.0001.25%
Di atas Rp8.700.000 sampai Rp9.250.0001.50%
Di atas Rp9.250.000 sampai Rp9.850.0001.75%
Di atas Rp9.850.000 sampai Rp10.500.0002.00%
Di atas Rp10.500.000 sampai Rp11.250.0002.25%
Di atas Rp11.250.000 sampai Rp12.050.0002.50%
Di atas Rp12.050.000 sampai Rp12.950.0003.00%
Di atas Rp12.950.000 sampai Rp13.950.0003.50%
Di atas Rp13.950.000 sampai Rp15.050.0004.00%
Di atas Rp15.050.000 sampai Rp16.250.0004.50%
Di atas Rp16.250.000 sampai Rp17.600.0005.00%
Di atas Rp17.600.000 sampai Rp19.100.0005.50%
Di atas Rp19.100.000 sampai Rp20.750.0006.00%
Di atas Rp20.750.000 sampai Rp22.600.0006.50%
Di atas Rp22.600.000 sampai Rp24.650.0007.00%
Di atas Rp24.650.000 sampai Rp26.950.0007.50%
Di atas Rp26.950.000 sampai Rp29.500.0008.00%
Di atas Rp29.500.000 sampai Rp32.400.0008.50%
Di atas Rp32.400.000 sampai Rp35.650.0009.00%
Di atas Rp35.650.000 sampai Rp39.250.0009.50%
Di atas Rp39.250.000 sampai Rp43.250.00010.00%
Di atas Rp43.250.000 sampai Rp47.700.00011.00%
Di atas Rp47.700.000 sampai Rp52.650.00012.00%
Di atas Rp52.650.000 sampai Rp58.200.00013.00%
Di atas Rp58.200.000 sampai Rp64.350.00014.00%
Di atas Rp64.350.000 sampai Rp71.250.00015.00%
Di atas Rp71.250.000 sampai Rp78.950.00016.00%
Di atas Rp78.950.000 sampai Rp87.550.00017.00%
Di atas Rp87.550.000 sampai Rp97.150.00018.00%
Di atas Rp97.150.000 sampai Rp107.950.00019.00%
Di atas Rp107.950.000 sampai Rp120.150.00020.00%
Di atas Rp120.150.000 sampai Rp134.150.00021.00%
Di atas Rp134.150.000 sampai Rp150.150.00022.00%
Di atas Rp150.150.000 sampai Rp168.150.00023.00%
Di atas Rp168.150.000 sampai Rp188.150.00024.00%
Di atas Rp188.150.000 sampai Rp210.150.00025.00%
Di atas Rp210.150.000 sampai Rp235.150.00026.00%
Di atas Rp235.150.000 sampai Rp263.150.00027.00%
Di atas Rp263.150.000 sampai Rp294.150.00028.00%
Di atas Rp294.150.000 sampai Rp329.150.00029.00%
Di atas Rp329.150.000 sampai Rp370.150.00030.00%
Di atas Rp370.150.000 sampai Rp420.150.00031.00%
Di atas Rp420.150.000 sampai Rp480.150.00032.00%
Di atas Rp480.150.000 sampai Rp560.150.00033.00%
Di atas Rp560.150.000 sampai Rp1.419.000.00034.00%
Di atas Rp1.419.000.00034.00%

Cara membaca tabel TER dan memilih tarif yang tepat

Cara memakai tabel ini sederhana:

  1. Tentukan kategori PTKP pegawai terlebih dahulu.
  2. Hitung penghasilan bruto bulanan yang menjadi dasar penerapan TER.
  3. Cocokkan angka bruto itu ke rentang penghasilan pada kategori yang sesuai.
  4. Ambil persentase TER pada baris rentang tersebut.
  5. Kalikan persentase TER dengan penghasilan bruto yang menjadi dasar pemotongan.

Yang dipakai adalah penghasilan bruto, bukan gaji bersih. Jadi sebelum memilih tarif, pastikan komponen yang dihitung memang komponen bruto sesuai aturan dan sistem payroll yang Anda gunakan.

Jika penghasilan berada di batas dua lapisan, pakai rentang yang memuat angka bruto tersebut. Dalam praktik payroll, konsistensi pembulatan juga perlu dijaga agar hasil antarperiode tidak bergeser tanpa alasan.

Contoh perhitungan PPh 21 TER langkah demi langkah

Di bagian ini, kita pakai contoh yang dekat dengan praktik payroll. Agar alurnya mudah diikuti, contoh dibuat dengan urutan: tentukan status, pilih kategori, cocokkan tarif, lalu hitung pemotongan.

Contoh 1: Pegawai tetap TK/0 masuk Kategori A

Misalkan seorang pegawai tetap berstatus TK/0 dengan gaji bulanan Rp8.000.000. Ia juga memiliki iuran pensiun yang dipotong dari gaji sebesar Rp100.000 per bulan.

Langkah 1: Tentukan kategori TER

Status TK/0 masuk Kategori A.

Langkah 2: Tentukan penghasilan bruto bulanan

Untuk pemotongan TER bulanan, gunakan penghasilan bruto yang menjadi dasar pemotongan. Pada contoh ini, penghasilan bruto bulanan adalah Rp8.000.000.

Langkah 3: Cari tarif pada tabel Kategori A

Rp8.000.000 berada pada rentang di atas Rp7.650.000 sampai Rp8.050.000, sehingga tarif TER-nya adalah 2,25%.

Langkah 4: Hitung PPh 21 bulanan

PPh 21 = 2,25% × Rp8.000.000 = Rp180.000.

Hasil akhir:

  • Kategori: A
  • Tarif TER: 2,25%
  • PPh 21 bulanannya: Rp180.000

Contoh 2: Pegawai tetap TK/2 atau K/1 masuk Kategori B

Misalkan pegawai tetap berstatus TK/2 dengan gaji bruto bulanan Rp12.500.000. Status ini masuk Kategori B.

Langkah 1: Tentukan kategori TER

TK/2 masuk Kategori B.

Langkah 2: Tentukan penghasilan bruto bulanan

Penghasilan bruto bulanan = Rp12.500.000.

Langkah 3: Cari tarif pada tabel Kategori B

Rp12.500.000 berada pada rentang di atas Rp12.300.000 sampai Rp13.050.000, sehingga tarif TER-nya adalah 4,50%.

Langkah 4: Hitung PPh 21 bulanan

PPh 21 = 4,50% × Rp12.500.000 = Rp562.500.

Hasil akhir:

  • Kategori: B
  • Tarif TER: 4,50%
  • PPh 21 bulanannya: Rp562.500

Contoh 3: Pegawai tetap K/3 masuk Kategori C

Misalkan pegawai tetap berstatus K/3 dengan gaji bruto bulanan Rp18.000.000. Status ini masuk Kategori C.

Langkah 1: Tentukan kategori TER

K/3 masuk Kategori C.

Langkah 2: Tentukan penghasilan bruto bulanan

Penghasilan bruto bulanan = Rp18.000.000.

Langkah 3: Cari tarif pada tabel Kategori C

Rp18.000.000 berada pada rentang di atas Rp17.600.000 sampai Rp19.100.000, sehingga tarif TER-nya adalah 5,50%.

Langkah 4: Hitung PPh 21 bulanan

PPh 21 = 5,50% × Rp18.000.000 = Rp990.000.

Hasil akhir:

  • Kategori: C
  • Tarif TER: 5,50%
  • PPh 21 bulanannya: Rp990.000

Contoh 4: Pegawai tidak tetap dengan penghasilan harian

Untuk pegawai tidak tetap, TER harian dipakai ketika penghasilannya memenuhi kriteria penerapan harian. Berdasarkan ketentuan yang dirujuk, TER harian adalah:

  • 0% untuk penghasilan sampai dengan Rp450.000 per hari
  • 0,5% untuk penghasilan di atas Rp450.000 sampai Rp2.500.000 per hari

Misalkan seorang pekerja harian menerima upah Rp600.000 dalam satu hari.

Langkah 1: Cek apakah masuk ambang TER harian

Rp600.000 berada di atas Rp450.000 dan masih di bawah Rp2.500.000.

Langkah 2: Terapkan tarif TER harian

Tarif yang dipakai adalah 0,5%.

Langkah 3: Hitung PPh 21 harian

PPh 21 = 0,5% × Rp600.000 = Rp3.000.

Hasil akhir:

  • Tarif TER harian: 0,5%
  • PPh 21 dipotong: Rp3.000

Pengaruh BPJS, tunjangan, lembur, biaya jabatan, dan iuran pensiun

Dalam praktik payroll, kesalahan paling sering muncul karena komponen gaji tidak dipisahkan sejak awal. Karena itu, sebelum memilih tarif TER, pastikan dulu komponen mana yang termasuk penghasilan dan mana yang menjadi pengurang.

Komponen yang biasanya perlu dicek

  • Tunjangan: umumnya menambah penghasilan bruto.
  • Lembur: jika dibayarkan sebagai penghasilan, ikut menambah bruto.
  • BPJS: posisinya tergantung jenis iuran dan perlakuan di payroll; untuk kebutuhan pemotongan, harus konsisten dengan ketentuan yang dipakai perusahaan.
  • Biaya jabatan: merupakan pengurang dalam perhitungan PPh 21 sesuai ketentuan yang berlaku.
  • Iuran pensiun: juga menjadi pengurang dalam perhitungan bila memenuhi ketentuan.

Cara berpikirnya di payroll

  1. Jumlahkan semua komponen penghasilan yang menjadi bruto.
  2. Kurangi pos pengurang yang relevan, seperti biaya jabatan dan iuran pensiun jika berlaku.
  3. Tentukan kategori TER dari PTKP.
  4. Cari tarif pada tabel sesuai penghasilan bruto yang dipakai.
  5. Hitung pemotongan pajaknya.

Kalau perusahaan Anda punya komponen BPJS, tunjangan tetap, tunjangan tidak tetap, atau lembur yang cukup dinamis, pastikan formula di payroll tidak mencampur penghasilan bruto dengan pengurang sebelum kategori dan tarif ditentukan.

Kapan TER bulanan, TER harian, dan tarif Pasal 17 dipakai

Agar tidak salah skema, pakai alur sederhana ini:

1. TER bulanan

Dipakai untuk pemotongan PPh 21 masa berjalan atas penghasilan bulanan pegawai yang masuk skema TER bulanan.

2. TER harian

Dipakai untuk penghasilan harian yang memenuhi kriteria penerapan TER harian. Pada konteks yang dirujuk, ambang yang disebut adalah sampai Rp450.000 untuk tarif 0% dan di atas Rp450.000 sampai Rp2.500.000 untuk tarif 0,5%.

3. Tarif Pasal 17

Dipakai pada masa pajak terakhir/Desember untuk penyelesaian penghitungan sesuai ketentuan yang berlaku. Inilah momen penyesuaian antara pemotongan masa berjalan dan hasil penghitungan tahunan.

Cara praktisnya:

  • Tentukan dulu apakah penerimanya pegawai tetap, tidak tetap, atau jenis penerima lain.
  • Tentukan periode pemotongan: bulanan, harian, atau masa pajak terakhir.
  • Baru pilih skema tarif yang sesuai.

FAQ seputar tabel TER PPh 21

Apa bedanya Kategori A, B, dan C?

Perbedaannya ada pada status PTKP yang menjadi dasar pengelompokan. Status PTKP tertentu masuk Kategori A, sebagian masuk Kategori B, dan status dengan PTKP lebih tinggi masuk Kategori C.

Kenapa tabel TER harus dibaca berdasarkan PTKP?

Karena kategori TER ditentukan dari status PTKP pegawai. Jika kategorinya salah, tarif yang dipakai juga bisa salah meskipun angka bruto sudah benar.

Apakah TER mengubah total pajak setahun?

TER adalah alat pemotongan masa berjalan. Pada masa pajak terakhir, penghitungan disesuaikan kembali dengan ketentuan tahunan yang berlaku, sehingga total pajak setahun tetap harus dicek pada akhir periode.

Apa yang harus dilakukan jika status pegawai berubah?

Jika status PTKP berubah di tengah tahun, sistem payroll perlu menyesuaikan kategori yang dipakai. Untuk kasus seperti ini, sebaiknya lakukan pengecekan ulang status keluarga dan pemetaan PTKP sebelum pemotongan berikutnya.

Apakah penghasilan bruto yang dipakai adalah gaji pokok saja?

Tidak selalu. Dalam praktik payroll, penghasilan bruto bisa mencakup komponen lain seperti tunjangan dan lembur, sesuai perlakuan yang dipakai perusahaan dan ketentuan yang relevan.

Ringkasan praktis untuk payroll

Kalau Anda ingin memakai tabel TER dengan aman, urutannya cukup begini:

  1. Pastikan status PTKP pegawai.
  2. Tentukan kategori A, B, atau C.
  3. Hitung penghasilan bruto yang menjadi dasar pemotongan.
  4. Cocokkan ke tabel TER bulanan atau harian.
  5. Terapkan tarifnya ke payroll bulan berjalan.
  6. Untuk Desember atau masa pajak terakhir, lakukan penyesuaian sesuai tarif Pasal 17.

Dengan alur ini, tabel tarif PPh 21 TER tidak hanya dibaca, tetapi benar-benar bisa dipakai dalam proses payroll harian. Untuk tim HR dan finance, yang paling penting bukan sekadar tahu angka tarifnya, melainkan memastikan kategori, dasar penghasilan, dan periode pemotongan semuanya sudah tepat sejak awal.

Share

Related Posts

https://www.pexels.com/id-id/foto/nomor-angka-waktu-jam-alarm-10829561/
Uncategorized

Cara Mengatasi Karyawan Terlambat: Panduan HR Langkah demi Langkah

Karyawan Terlambat yang berulang bukan sekadar soal jam masuk kerja. Jika dibiarkan, ritme kerja tim bisa terganggu, koordinasi menjadi lambat, dan tugas yang bergantung pada kehadiran orang lain ikut mundur. Karena itu, cara mengatasi karyawan terlambat sebaiknya tidak hanya berhenti di teguran lisan. HR, supervisor, dan manajer perlu punya langkah yang jelas: mulai dari memahami penyebab, menetapkan […]

August 21, 2026
Read More
https://www.pexels.com/id-id/foto/uang-kertas-euro-dan-lei-dengan-kalkulator-di-meja-29031562/
Uncategorized

Perbedaan Rumus PPh 21 Gross, Gross Up, dan Net di Excel

Kalau Anda sedang menyusun payroll di Excel, tiga metode yang paling sering muncul untuk PPh 21 adalah Gross, Gross Up, dan Net. Sekilas ketiganya terlihat mirip, tetapi hasil akhirnya berbeda karena siapa yang menanggung pajak, bagaimana take-home pay dihitung, dan seberapa besar biaya perusahaan. Artikel ini fokus pada sisi praktik: bagaimana membedakan ketiganya, input apa saja yang harus […]

August 21, 2026
Read More