Apa Itu eNPS? Cara Menghitung dan Memahami Hasil Survei Karyawan

Apa Itu eNPS? Cara Menghitung dan Memahami Hasil Survei Karyawan
HR yang baru menggunakan eNPS biasanya menghadapi dua kekhawatiran: salah menghitung skor atau terlalu cepat menarik kesimpulan dari satu angka. Padahal, eNPS tidak langsung memberi jawaban tentang kepuasan, loyalitas, atau kemungkinan karyawan bertahan. Angka ini lebih tepat dipakai sebagai sinyal awal tentang seberapa besar kemungkinan karyawan merekomendasikan perusahaan sebagai tempat bekerja.
Rumusnya memang sederhana. Karyawan menjawab pertanyaan dengan skala 0-10, jawaban dikelompokkan menjadi Promoter, Passive, dan Detractor, lalu persentase Promoter dikurangi persentase Detractor. Tantangan utamanya justru ada setelah perhitungan selesai: membaca hasil secara proporsional dan memahami alasan di baliknya.
Contents
eNPS Membaca Kemauan Karyawan Merekomendasikan Perusahaan
Employee Net Promoter Score (eNPS) adalah ukuran untuk melihat kemungkinan karyawan merekomendasikan perusahaan kepada teman atau rekan kerja sebagai tempat bekerja.
Pertanyaan yang digunakan biasanya berbunyi:
“Seberapa besar kemungkinan Anda merekomendasikan perusahaan ini sebagai tempat bekerja kepada teman atau rekan kerja?”
Karyawan memberikan nilai dari 0 sampai 10. Karena fokusnya adalah kemauan merekomendasikan, eNPS sebaiknya dibaca sebagai sinyal tentang persepsi dan pengalaman karyawan. Angka ini bukan bukti tunggal bahwa seluruh karyawan bahagia, loyal, produktif, atau pasti akan bertahan.
Istilah eNPS berkaitan dengan Net Promoter Score (NPS). Perbedaannya terletak pada objek yang dinilai. NPS biasanya digunakan untuk melihat kemungkinan pelanggan merekomendasikan produk atau layanan, sedangkan eNPS menilai pengalaman karyawan terhadap tempat kerjanya.
Pastikan Setiap Nilai Masuk ke Kategori yang Tepat
Sebelum menghitung, masukkan setiap jawaban ke kategori yang sesuai. Kesalahan paling umum terjadi ketika nilai 7 atau 8 dianggap sebagai jawaban positif penuh, atau ketika kelompok Passive ikut dikurangkan dari skor.
Rentang skor | Kategori | Peran dalam perhitungan |
|---|---|---|
9–10 | Promoter | Menambah persentase positif |
7–8 | Passive | Tidak menambah dan tidak mengurangi skor |
0–6 | Detractor | Dikurangkan dari persentase Promoter |
Passive tetap dihitung sebagai bagian dari seluruh respons. Namun, kelompok ini tidak masuk langsung ke rumus karena eNPS menunjukkan selisih antara responden yang sangat mungkin merekomendasikan perusahaan dan responden yang tidak merekomendasikannya.
Contohnya, nilai 8 tidak boleh dimasukkan sebagai Promoter hanya karena terlihat cukup tinggi. Dalam eNPS, nilai tersebut tetap termasuk kategori Passive.
Rumusnya Sederhana, Begitu Juga Contoh Hitungnya
Rumus dasar eNPS adalah:
eNPS = persentase Promoter – persentase Detractor
Untuk mendapatkan persentase setiap kategori, bagi jumlah responden dalam kategori tersebut dengan total responden, kemudian kalikan dengan 100 persen.
Misalnya, ada 100 karyawan yang mengisi survei:
Kategori | Jumlah responden | Persentase |
|---|---|---|
Promoter | 50 | 50% |
Passive | 30 | 30% |
Detractor | 20 | 20% |
Total | 100 | 100% |
Perhitungannya:
eNPS = 50% – 20% = 30
Dengan demikian, skor eNPS perusahaan adalah 30. Kelompok Passive tetap menjadi bagian dari 100 persen respons, tetapi tidak dikurangkan secara langsung.
Skor sama belum tentu berarti kondisi yang sama
Sekarang lihat contoh lain. Dari 100 respons, terdapat 60 Promoter, 10 Passive, dan 30 Detractor. Perhitungannya menjadi:
eNPS = 60% – 30% = 30
Hasilnya tetap 30, meskipun susunan respondennya berbeda dari contoh pertama. Contoh pertama memiliki lebih banyak Passive, sedangkan contoh kedua memiliki lebih banyak Promoter sekaligus lebih banyak Detractor.
Di sinilah angka eNPS perlu dibaca dengan hati-hati. Dua perusahaan bisa memiliki skor yang sama, tetapi menghadapi persoalan yang berbeda. Salah satunya mungkin perlu memahami mengapa banyak karyawan berada di posisi Passive. Sementara itu, perusahaan lain perlu menelusuri sumber pengalaman negatif dari kelompok Detractor.
Membaca Rentang Skor -100 sampai +100
Secara matematis, eNPS berada pada rentang -100 hingga +100. Skor positif berarti persentase Promoter lebih besar daripada persentase Detractor. Sebaliknya, skor negatif berarti persentase Detractor lebih besar daripada persentase Promoter.
Skor +100 terjadi ketika seluruh responden termasuk Promoter. Skor -100 terjadi ketika seluruh responden termasuk Detractor. Meski begitu, skor ekstrem bukan kondisi yang biasanya perlu dijadikan sasaran tanpa melihat konteks surveinya.
Lantas, berapa skor yang bisa disebut baik? Tidak ada satu angka yang menjadi standar universal untuk semua perusahaan. Industri, jenis pekerjaan, kondisi organisasi, komposisi tenaga kerja, dan cara survei dilakukan dapat memengaruhi hasil.
Untuk survei pertama, HR lebih aman menjadikan skor sebagai baseline internal. Pada survei berikutnya, perhatikan apakah skor naik, turun, atau tetap. Setelah itu, hubungkan perubahannya dengan komentar karyawan dan peristiwa yang terjadi di perusahaan. Benchmark eksternal baru masuk akal jika konteks organisasi yang dibandingkan benar-benar sebanding dan dasar datanya jelas.
Skor positif juga tidak otomatis berarti kepuasan, budaya, atau retensi perusahaan sudah baik. eNPS hanya menangkap jawaban atas satu pertanyaan utama. Karyawan bisa merekomendasikan perusahaan sambil tetap mengeluhkan beban kerja atau peluang pengembangan. Sebaliknya, seseorang bisa memberi skor rendah karena masalah yang sangat spesifik dan tidak mewakili seluruh pengalaman kerjanya.
Jangan Berhenti Setelah Angkanya Keluar
Dalam praktiknya, survei sering berhenti di tahap pelaporan. HR memasukkan skor ke laporan, membandingkannya dengan periode sebelumnya, lalu tidak kembali membaca komentar karyawan. Padahal, komentar itulah yang membantu menjelaskan apa yang sebenarnya perlu diperbaiki.
Setelah pertanyaan rating, tambahkan satu pertanyaan terbuka yang singkat, misalnya:
“Apa alasan utama Anda memberikan nilai tersebut?”
Jawaban karyawan bisa mengarah pada isu seperti kepemimpinan, work-life balance, gaji, manfaat kesehatan, atau pengembangan keterampilan. Tidak semua komentar harus dijadikan proyek terpisah. Cari pola yang berulang, lalu pilih area yang realistis untuk ditangani.
Anonimitas juga perlu dijaga agar karyawan lebih leluasa memberikan umpan balik. Saat hasil dibagi berdasarkan departemen, masa kerja, manajer, lokasi, atau level jabatan, pastikan penyajiannya tidak membuat identitas responden mudah ditebak, terutama pada kelompok kecil.
Setelah menemukan polanya, sampaikan hasil secara terbuka: apa yang didengar, area mana yang akan diprioritaskan, dan apa yang belum dapat dilakukan. Tidak semua masukan bisa langsung diwujudkan, tetapi karyawan perlu melihat bahwa survei tidak berhenti sebagai formalitas.
Jadikan eNPS Awal untuk Menggali Masalah
Untuk mulai menggunakan eNPS, HR perlu memastikan tiga hal: pertanyaan rating dipahami dengan cara yang sama, kategori jawaban dihitung secara konsisten, dan hasil dibaca bersama komentar terbuka.
Simpan skor pertama sebagai baseline internal, lalu bandingkan hasil antarperiode dengan konteks yang menyertainya. Jika skor tidak berubah, bukan berarti tidak ada yang bisa dipelajari. Komentar mungkin menunjukkan bahwa masalah bergeser dari kepemimpinan ke beban kerja, atau bahwa kelompok tertentu mengalami pengalaman yang berbeda dari rata-rata perusahaan.
eNPS paling berguna ketika membantu HR mengajukan pertanyaan lanjutan: mengapa karyawan memberi skor tersebut, siapa yang mengalami masalah, dan perbaikan apa yang bisa dilakukan terlebih dahulu. Angkanya tetap penting, tetapi keputusan setelah angka itulah yang menentukan apakah survei benar-benar membantu memahami kepuasan dan loyalitas karyawan.
Bagikan
Artikel Terkait
Apa Saja Risiko Pinjaman Bank terhadap Arus Kas Perusahaan?
Pinjaman bank bukan hanya soal mendapatkan dana. Bagi perusahaan, pinjaman adalah kewajiban kas yang tetap berjalan ketika pendapatan sedang turun. Kenali risikonya sebelum menandatangani fasilitas kredit.
Memahami Tujuan Penilaian Kinerja dari KPI sampai Rencana Pengembangan
Tujuan penilaian kinerja bukan berhenti pada skor. Evaluasi yang berguna membantu karyawan memahami kekuatan dan area perbaikan, sekaligus memberi perusahaan dasar untuk mengambil keputusan yang lebih terarah.

